:

6/22/2010

Bagaimana Hipnotis Bisa melumpuhkan Otak

Diposting oleh Ilmu Tentang Komputer

NEW YORK - Hanya dengan mengucapkan serangkaian kata, ahli hipnotis mampu "melumpuhkan" kinerja otak orang yang dihipnotisnya. Sekilas memang terdengar seperti bernuansa magis, namun ilmuwan memiliki penjelasan ilmiah mengenai hal ini.

Pada keadaan terhipnotis, seseorang akan melakukan apapun yang diperintahkan tanpa sadar.

Ilmuwan menganalisa mekanisme kerja otak manusia dalam keadaan terhipnotis dengan menggunakan alat pemindai otak.

"Mekanisme kerja otak yang terjadi ketika keadaan terhipnotis dikategorikan sebagai jenis keterhubungan kembali antara dua wilayah otak yang berbeda," kata Yann Cojan, dari University of Geneva, Switzerland, seperti yang dikutip dari Yahoo News Tech, Kamis (25/6/2009).

Studi yang melibatkan 12 orang partisipan ini mencoba mengulik apa yang terjadi ketika partisipan mencoba menggerakkan tangan dalam keadaan terhipnotis.

Hasilnya memperlihatkan, korteks penggerak pada bagian kanan otak seperti biasa memerintahkan tangan kanan untuk bergerak. Namun nyatanya kortek mengabaikan bagian otak yang secara normal berkomunikasi dalam mengontrol gerakan.

Padahal, bagian otak ini lebih banyak bekerja pada mekanisme sinkronisasi dibandingkan dengan yang biasa dilakukan pada keadaan sadar dengan wilayah otak berbeda yang disebut precuneus.

Precuneus berperan dalam penggambaran mental dan memori tentang seseorang. Cojan memperkirakan bagian precuneus ini yang terpengaruh oleh perkataan ahli hipnotis yang misalnya mengatakan, "tangan Anda sangat berat, tidak bisa digerakkan dan diangkat dari atas meja", dan lain sebagainya.

Precuneus kemudian memberitahukan bagian kortek penggerak dengan melanjutkan sugesti seperti, "Tangan Anda memang terasa sangat berat untuk diangkat. Anda tak bisa mengerak-gerakkannya."

"Pada saat kortek penggerak terhubung dengan sugesti yang mengatakan bahwa tangan Anda tidak bisa bergerak, maka bagian ini tidak mengirimkan pesan untuk menggerakkannya," tandas Cojan.
(srn)

Read More..

Efek keseringan browsing

Diposting oleh Ilmu Tentang Komputer

Internet ternyata tak hanya mengubah cara manusia hidup, namun juga bisa mengubah cara kerja otak. Teori baru ini dikemukakan oleh seorang ilmuwan ahli syaraf yang berpendapat bahwa perubahan revolusioner di bidang teknologi berkemungkinan menempatkan kecerdasan teknologi di atas kecerdasan manusia.

Dalam penelitian yang digodok serius oleh seorang ilmuwan spesialis syaraf dari UCLA California bernama Gary Small, menemukan bahwa pencarian lewat internet dan pesan teks bisa membuat otak menjadi mahir dalam menyaring informasi dan membuat keputusan dalam waktu singkat.



Namun, penelitian yang yang memang memfokuskan pada fungsi otak ini, juga menemukan beberapa kekurangan seperti dapat menimbulkan kecanduan pada internet yang notabene persahabatan di dalamnya adalah virtual alias tidak nyata dan bisa meningkatkan penyakit tak peduli pada kedaan sekitar atau dalam istilah ilmiahnya disebut Attention Deficit Disorder, di samping beberapa kelebihan yang telah berhasil diungkap seperti mampu mempercepat proses pembelajaran dan meningkatkan kreativitas. Dengan penemuan seperti ini, Small berani mengklaim bahwa generasi berpotensi di waktu mendatang merupakan campuran dari seseorang yang memiliki keahlian teknologis dan sosial, walaupun masih dalam persentase kecil.

“Saya melihat ada perubahan evolusioner di sini. Generasi penerus di waktu mendatang merupakan generasi yang mumpuni dalam keahlian teknologis serta keahlian bersosialisasi,” papar Small seperti diberitakan Reuters, Rabu (29/10/2008).

“Generasi masa depan tersebut nantinya akan memilih berbicara secara langsung ketika mendapatkan surat elektronik atau pesan instan ketimbang hanya duduk diam dan membalas surat elektronik itu lewat cara biasa,” tambah Small lagi.

Keberanian direktur dari Memory & Aging Research Centre ini untuk mengungkap teori baru tentang otak, berdasar dari keyakinannya bahwa otak merupakan organ hidup yang paling sensitif dalam menghadapi perubahan di lingkungan sekitar seperti yang sudah terjadi akibat perkembangan pesat teknologi. Small berujar bahwa di dalam 24 orang dewasa yang berpartisipasi dalam penelitiannya, ditemukan adanya aktivitas berlipat ganda di sebuah area tertentu di otak yang bisa mengontrol pemutusan sebuah keputusan dan kemampuan membuat alasan yang kompleks.

“Bila otak dijejali dengan tugas mental yang sama berulang kali maka bisa memperkuat jaringan neural tertentu sehingga mengakibatkan otak mengabaikan tugasnya yang lain,” terang Small.

Generasi yang terbentuk dari kecerdasan teknologi seperti ini, atau diistilahkan ‘digital natives’ oleh Small, dirasa bisa menimbulkan masalah karena otak mereka akan selalu memindai informasi baru yang berpotensi menciptakan stress bahkan kerusakan otak. Oleh sebab itu Small melalui penelitiannya ingin menggugah generasi muda masa kini yang pada umumnya menghabiskan sembilan jam di depan komputer, untuk mulai kembali ke kehidupan sosial sehingga bisa mencegah menipisnya kepedulian antarsesama.

“Sekaranng kita sudah mengahadapi situasi dimana orang-orang makin kehilangan kemampuan untuk melakukan kontak sosial dengan sesama serta tak mampu lagi untuk membaca emosi maupun bahasa tubuh orang-orang di sekitarnya. Oleh sebab itulah kita harus mulai mengurangi kontak dengan berbagai teknologi dan mulai kembali ke berbagai aktivitas manusiawi, seperti makan malam bersama keluarga. Semua itu perlu dilakukan kembali agar tercapai keseimbangan dalam hidup dan teknologi tidak mengambil alih cara manusia hidup dan berpikir,’ jelas Small.

Read More..

6/04/2010

Terbukti Telur Duluan Daripada Ayam

Diposting oleh Ilmu Tentang Komputer

da artikel nie, Yang bikin Penasaran,,

Teka-teki klasik antara telur dulu atau ayam dulu mungkin terjawab dengan penemuan fosil sarang dinosaurus di Kanada. Di sarang yang dibuat 77 juta tahun lalu itu masih terlihat jelas bekas kumpulan lima butir telur.

“Karakteristik sarang tersebut mirip dengan sarang burung,” ujar Francois Therrein, salah satu paleontolog dari Royal Tyrell Museum Alberta, Kanada. Ini berarti bahwa dinosaurus lebih dulu membuat sarang sebagai tempat mengerami telurnya sebelum burung melakukannya. Selama ini, sejumlah pakar evolusi masih berasumsi bahwa burung berkembang dari dinosaurus.

Ukuran sarangnya berdiameter sekitar setengah meter dan diperkirakan seberat 50 kilogram. Di dalamnya setidaknya terdapat bekas 12 cangkang telur yang masing-masing berukuran panjang 12 centimeter dan tersusun rapi serta mengarah ke satu titik.

“Berdasarkan bentuk telur dan sarangnya, kami yakin sarang tersebut buatan seekor caenagnathid atau raptor kecil, keduanya sama-sama pemakan daging dan memiliki kekerabatan yang erat dengan burung,” ujar Darla Zelenetsky, peneliti lainnya dari Universitas Calgary, Kanada.

Zelenetsky mempelajarinya sejak disimpan di Canada Fossil Limited Calgary tahun 1990-an. Sebelumnya ia mengira fosil sarang tersebut dibuat seekor dinosaurus herbivora berparuh bebek. Namun, setelah mempelajari lebih seksama, diketahui bahwa sarang tersebut kemungkinan besar dari kelompok theropoda yang merupakan nenek moyang

Read More..

Main musik bikin pinter

Diposting oleh Ilmu Tentang Komputer

Bermain alat musik di waktu senggang, apalagi bila ditekuni menjadi musisi profesional ternyata dapat meningkatkan kecerdasan.

Seorang musisi yang telah berlatih selama puluhan tahun akan menggunakan kedua bagian otaknya, kanan dan kiri secara seimbang daripada orang yang jarang bermain alat musik.

Seperti dikutip dari sciencedaily.com, Sabtu (4/9/2008), peneliti Vanderbilt University, Bradley Folley mengungkapkan seorang musisi professional lebih efektif dalam mengeksplorasi daya kreatif karena otak kanan dan kiri dalam frontal cortex mereka bekerja lebih dibandingkan yang nonmusisi.

“Kami mempelajari dan meneliti pengalaman sehari-hari para musisi, terutama cara berpikir kreatif?mereka dan kami menemukan ada perbedaan kualitas cara menjawab suatu permasalahan di dalam aktivitas otak mereka,” kata Folley.

Bersama kedua rekannya, Crystal Gibson dan Sohee Park, Folley meneliti sebanyak 20 orang musisi klasik dan membandingkannya dengan 20 orang nonmusisi.

Para musisi yang dijadikan contoh tersebut minimal telah berlatih dan berpengalaman selama delapan tahun. Adapun mereka memainkan berbagai instrumen seperti gitaris, pianis, dan penabuh drum.

Selain itu, penelitian itu dilakukan dengan cara memberikan pertanyaan tertulis semacam psikotes kepada responden, yang sebelumnya diberikan kesempatan bermain, memainkan, dan mendengarkan musik terlebih dahulu.

Hasil penelitian pertama menunjukkan, seorang musisi yang menggerakan tangan sekaligus membaca not-not musik dapat menjawab pertanyaan dan merespon pertanyaan lebih baik daripada kelompok nonmusisi.

Perbedaan nilai paling jauh terlihat dari tes kemampuan verbal, di mana jawaban musisi lebih sempurna.

Selain itu, dengan menggunakan teknik infrared, para peneliti juga melihat perbedaan jumlah oksigen di dalam tekanan darah pada otak ketika para musisi melakukan tes kognitif.

Dia mengatakan, penelitian tersebut bertujuan mencari teknik baru psikologi untuk meningkatkan kemampuan seseorang dalam memecahkan sebuah permasalahan. Di samping itu, faktor lainnya juga mempengaruhi daya kreativitas seseorang.

Read More..